Sabtu, 03 Januari 2015

,

Hijab today



Hijab adalah salah satu symbol islam untuk menutup aurat wanita, dengan hijab seorang wanita akan terjaga iffahnya dan ia pula makhluk yang sangat dimuliakan dalam islam karena hijabnya. Namun apa jadinya jika hijab itu ternyata disalah gunakan, seperti fenomena yang kita saksikan di hari-hari belakangan ini?
Jawabannya adalah kehancuran. Yap, bukan kemulian seorang wanita yang akan didapatkan akan tetapi sebaliknya kebinasaan dan kehancuran moral wanita-wanita bangsa ini. Iyadzan billah minhu

Berkenaan dengan hijab, ada 3 istilah yang sangat fenomenal ditelinga kita hari ini. Hijabers, Jilboobs dan jilbab gaul. Nah, kalo kita melihat dengan kacamata islam, apakah ketiga istilah ini ada hakikatnya dalam syariat ini? Tentu jawabannya adalah tidak. Hijab yaitu hijab. Jika berbeda dengan itu berarti bukan berasal dari islam. Berarti siapa dalang dibalik jilboobs dll?? Adalah orang-orang yang tidak suka dengan ajaran hijab tersebut.

Berbicara tentang hijab, tak lepas dari pembicaraan tentang pakaian. Karena hijab adalah bagian dari pakaian. So, sedikit banyaknya penulis akan menguraikan bagaimana ciri khas pakaian syar’i menurut ajaran islam.

Sobat muda, saya khususkan risalah ini untuk pemudi-pemudi yang sedang menikmati glamour kehidupan di abad ini, yang sedang meneguk manisnya pesona dunia saat ini. Pula, kepada sobat yang memiliki saudari perempuan dan kepada bapak-bapak yang memiliki putri perempuannya.
Saudariku…  Apa yang menghalagimu untuk berhijab sesuai syariat???.

Jika anda mengaku sebagai putri-putri muslimah, jika anda mengaku sebagai saudari-saudari muslimah, jika anda mengaku sebagai ibu-ibu dari anak anak masa depan bangsa ini. Ingatlah, bahwa islam telah menetapkan batasan-batasan untuk pakaian anda, aurat bukan untuk diperlihatkan agar orang menggoda dan tertarik denganmu, aurat bukan barang pasaran yang bisa didapatkan dimana-mana, aurat adalah harta simpanan seorang wanita, iffah dan kehormatan seorang wanita. Islam menuntut anda untuk menutupnya dengan sempurna, islam memuliakannya dengan kain penutup yang sempurna dan islam menuntut anda untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini dalam masalah hijab….

# Aurat wanita is the whole body
Batasan aurat seorang wanita itu adalah seluruh anggota tubuh selain wajah dan telapak tangan, berbeda dengan laki-laki yang hanya sampai batasan antara lutut dan pusar. 
Nah jika demikian, maka tuntutan dari aurat tersebut adalah menutupnya dan tidak boleh diperlihatkan kepada siapapun.
Aurat  ialah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup, atau setiap apa yang dirasa memalukan apabila tampak, atau setiap apa yang ditutupi oleh manusia karena malu, atau ia juga berarti kemaluan itu sendiri. (Tuhfatul Ahwadzi(3/253)).
Nah, jika anda telah mengetahuinya. Maka berikut tuntunan syariat terhadap anda…

# Hijab syar’i
Hijab yang sesuai dengan sunnah Nabi adalah dengan menutup seluruh anggota tubuh bagian aurat. Sob, apakah cukup hanya dengan menutup? Tidak. Islam telah memberikan batasan-batasan terhadap pakaian wanita, berikut ringkasan kriterianya:
1. Tidak menampilkan lekak-lekuk tubuh/ketat,
2. Mengenakan pakaian berwarna gelap,
3. Pakaian menggunakan kain yang agak tebal, tidak menampilkan bagian dalam,
4. Menutupi seluruh anggota badan selain wajah dan telapak tangan,
5. Tidak banyak corak atau gambar-gambar.

Nah, jika kriteria diatas sudah terpenuhi dalam pakaian seorang wanita maka itu baru dinamakan dengan hijab yang syar’i yang sesuai tuntunan syariat. Maka trend apapun yang di gembar-gemborkan oleh sebagian orang zaman ini dalam masalah hijab, jika tidak memenuhi kriteria diatas belum dinamakan hijab.

# Harus diwaspadai
Saudariku…
Janganlah diri kalian termasuk dari golongan orang-orang yang akan dilemparkan kedalam api neraka karena masalah pakaian, dan bahkan mereka tidak akan pernah mencium bau surga. Why? Karena mereka berpakaian tapi pada hakikatnya sama dengan telanjang.  Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَ
“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok menimbulkan fitnah (godaan). Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk ke dalam surga. Dan mereka tidak mencium baunya. Dan sungguh bau surga itu bisa tercium dari jarak demikian dan demikian”. [HR. Muslim dari Sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Wahai saudariku..
Perlu anda ketahui, bahwa aurat itu adalah dirimu sendiri.  Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya.”( (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani  dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109)

Banyak ulama yang mensyarahkan hadist ini mengatakan, sosok wanita itu selalu menggoda. Karena setiap wanita keluar dari rumahnya selalu setan menghiasinya sehingga membuat menarik perhatian lawan jenisnya. Inilah yang dinamakan wanita itu adalah aurat.

Maka, wahai saudariku… Islam telah memuliakanmu dengan pakaian yang menutupi auratmu, jaganlah engkau kotori kehormatanmu tersebut…

Di akhir risalah ini, saya ingin mengutip satu perkataan yang saya dapatkan dari salah teman kuliah, “Banyak orang yang mengatakan, mereka ingin berjilbab setelah menikah karena tidak ingin suaminya menanggung dosanya disebabkan tidak menutup aurat. Tapi sadarkah kamu ukhti, bahwa ayahmu yang menanggung dosa itu selama kamu belum menikah?. Apakah kamu juga tidak ingin melindungi ayahmu juga dari api neraka?” salam orang yang peduli dengan masa mudamu.

Cikarang, 08-09-2014
Saudaramu Aboe Syuja’

Sumber: Majalah elfata, edisi. 10, vol. 14/2014

0 komentar: