Senin, 05 Januari 2015

,

Tolonglah, Selama kamu masih mampu


Sikap saling membantu dan tolong-menolong merupakan fitrah dalam agama islam yang telah ditanamkan sejak lahir bagi setiap manusia. Tidak ada satu manusiapun didunia ini kecuali memiliki sifat dan sikap tolong-menolong dalam hal apapun, hanya saja berbeda antara sikap satu orang dengan yang lainnya. Karena manusia tidak akan bisa bertahan hidup dan mencapai keberhasilannya tanpa pertolongan dari orang lain. Semuanya saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.


Sikap saling tolong-menolong merupakan salah satu pondasi untuk tetap mempertahankan keutuhan dan kesatuan umat ini. Sebuah kekuatan itu terbentuk dari sebuah kelompok dan bukan dari perorangan. Namun jika kelompok itu sudah berpencar, maka kekuatan itupun akan luruh dan kemudian hilang. Maka jadilah manusia ini lalai dan terperdaya dari setiap makar. Begitu pula dengan agama islam, disaat umatnya bersatu demi memperjuangkan agama islam, maka akan terbentuk sebuah kekuatan yang sangat bisa diandalkan. Namun sebaliknya, jika sikap saling tolong-menolong ini sudah luruh dari umat islam, maka tanpa disadari islam akan diserang dari berbagai benjuru, yang kemudian umat islam akan diporak-porandakan oleh orang-orang kafir.

Umat islam dikenal dengan kesatuan yang satu, bagaikan satu tubuh, jika satu bagian dari tubuh ini sakit maka seluruh anggota tubuh akan merasakan sakit. Inilah prinsip islam. Mereka saling behu-membahu dalam menyelesaikan segala permasalahan. Berat sama dipikul, ringan sama dirasa. 

Sikap tolong-menolong yang inilah yang telah digambarkan dalam sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-,
((المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيه
Artinya: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan saling menguatkan satu dengan yang lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

مثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهمْ وَتَعَاطُفِهمْ ، مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
Artinya: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam persahabatan dan kasih sayang serta kelembutan mereka, laksana satu jasad, jika satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakannya dengan tidak bisa tidur dan rasa panas (demam)". (HR. Bukhari dan Muslim)

MACAM-MACAM SIKAP TOLONG-MENOLONG
Sikap saling membantu terbagi menjadi dua macam. Dua perkara yang berbeda dari segala sisi. Saling bertentangan dan saling kontrovesional:

- Atta'awun 'alal birri, saling tolong-menolong dalam kebaikan
Sikap saling menolong inilah yang diajarkan dalam islam. Saling membantu dalam kebaikan, dalam menyebarkan syariat islam ini, dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Dan dalam segala hal perilaku dikehidupan sosial selama masih dalam koridor syariat islam. Termasuk didalamnya pula mengajak orang kepada kebaikan dengan saling memberi nasehat antar sesama.

- Atta'awun 'alal istmi, saling tolong menolong dalam kejahatan
Bukti nyata tolong menolong dalam kejahatan seperti membantu orang dalam membuat kerusakan, menyebarkan keburukan dan bersama-sama dalam bermaksiat kepada Allah. Sungguh Allah sangatlah murka kepada orang-orang yang saling membantu dalam perbuatan keji dan mungkar. Firman Allah yang melandaskan kita untuk saling tolong-menolong adalah dalam kebaikan bukan dalam kejahatan, dan dalam rangka menyebarkan kerusakan dimuka bumi.
“Dan saling tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan, serta jangan saling tolong menolong dalam berbuat dosadan pelanggaran”(QS. Al-Maidah: 2)

TELADAN KITA
Sikap tolong menolong telah dicontohkan oleh pendahulu islam, para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin. Mereka teladan yang patut kita contoh, dalam setiap gerak mereka sehari-hari selalu mencerminkan sikap saling tolong menolong. Itulah pejuang-pejuang islam yang Rasulullah mengatakan sebaik-baik generasi. Lihatlah para sahabat Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- yang berada di Mekkah pada saat Nabi memutuskan mereka untuk hijrah ke Madinah, mereka pun berhijrah kemadinah dengan meninggalkan segala harta mereka, itu semua mereka kerjakan hanya demi tegaknya agama islam.

Pada saat kaum muhajirin sampai dikota Madinah, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- pun mempersaudarakan antara penduduk Makkah dengan penduduk Madinah, diantara mereka yang terkenal adalah kisahnya sahabat Abdurahman bin 'Auf, Rasulullah mempersaudarakannya dengan Saad bin Rabi' Al-Anshari. Saad berkata kepada Abdurahman, “Sesungguhnyan aku orang yang paling kaya dikota Madinah dan aku memiliki banyak harta, jika kamu mau maka aku akan membagikannya denganmu. Dan aku mempunyai dua istri, pilihlah siapa yang kau mau salah satu diantara mereka, maka akan kunikahkannya dengan mu”. Maka saad pun berkata: “Sesungguhnya aku tidak terlalu membutuhkan kepada itu semua. Tolong tunjukanku kepasar yang dekat dari sini”. Maka Saad pun menunjukannya kepasar Bani Qainuqa, kemudian Abdurrahman pun mulai berdagang.”

Contoh lain dari teladan para sahabat terdahulu adalah Abu Bakar yang digelari dengan Ash-Shiddiq. Beliau orang yang paling gemar membantu orang lain yang dalam kesusahan. Abu Bakar Ash-Shiddiq membebaskan beberapa budak disaat islam benar-benar membutuhkan bantuan, membebaskan budak bukan hal yang bisa dilakukan hanya dengan bayaran kecil, akan tetapi membutuhkan dana yang banyak hanya untuk satu orang budak. Ketika Abu Bakar -radhiallah ‘anhu- berkeinginan membebaskan Bilal -radhiallah ‘anhu- dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar radhiallah ‘anhu langsung menebusnya. 
1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas
285,73 gr x Rp 400.000,00 = Rp 114.291.000,0
dan masih banyak contoh-contoh lain yang telah disebutkan dalam banyak riwayat serta dalam goresan tinta para ulama.

SO WHAT?
Timbul pertanyaan dalam diri kita, emang kenapa sih dengan tolong-menolong? Tentu sekilas kita mengetahui jawabannya. Namun disini penulis ingin menruraikan beberapa manfaat dari sikap tolong-menolong:

Memperkuat hubungan ukhuwah islamiyah.
Saat sikap ini telah tertancap kuat dalam setiap jiwa anak adam, maka hal ini akan menimbulkan efek dengan eratnya hubungan persaudaraan antar sesama muslim. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meringankan penderitaan orang lain.
Dengan adanya sikap saling tolong-menolong pula, maka akan mengurangi beban orang-orang miskin, kemudian akan menyelamatkan manusia dari berbagai penyakit yang merusak aqidah, penyakit yang disebarkan oleh orang-orang kafir.
Rasulullah menegaskan dalam sabdanya,
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya” (HR. Muslim)

Menghilangkan sikap kedengkian, kebencian dan rasa dendam.
Manusia akan merasa tenang dan tentram dalam kehidupan sehar-harinya, karena tidak ada yang mengganggunya. Bayangkan jika orang kaya tersebut pelit, maka akan timbul berbagai macam kedengkian dri setiap orang yang melihatnya. Kemudian hidupnyapun tidak akan tenang sampai akhir hayat menjemputnya.

Saudaraku...
Telah banyak kisah para generasi pertama yang kita dengar dalam hal saling tolong-menolong. Saling membantu dan .Nah, sekarang satu pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang sudaj kita berikan untuk islam? Seberapa besarkah pengorbanan kita untuk islam?. Perlu kita jawab bersama. Jika kita mengatakan belum dan masih sangat sedikit, maka bangkitlah wahai umat persatuan. Berikan apa yang bisa kita torehkan untuk islam dan umatnya, dalam hal apapun.

Dunia adalah tempat kita beramal tanpa hisab dan akhirat adalah tempat kita dihisab tanpa amal. Maka selama masih nyawa dikandung badan dan kekuatan masih terselubung juat dalam jiwa kita, berikanlah sesuatu untuk islam, untuk kemajuan umat islam. Tanamlah dalam diri kita sikap peduli dengan sesama.
Wallahua'lam bisshowab

-----------------------------------



Oleh: Hamdani Aboe Syuja'
Sumber: Buletin Nidaa'ul Irsyad, edisi-12, Sya'ban-1435 H

0 komentar: